Langsung ke konten utama

Kelebihan dan kekurangan Lingkungan Internal Sistem Politik di Papua (Syongten.Hindom-UNIYAP PAPUA)

    

Klasifikasi Lingkungan Internal Sistem Politik :

1.     Lingkungan Fisik

a.       Kondisi Geografis

A1. Luas Wilayah

-          Papua merupakan bagian barat pulau besar Nugini.
-          Luas wilayahnya 416.129 km2 dan mendukung hutan rimba tropis tua terluas yang masih ada di Asia Pasifik.
-          Papua didominasi oleh jajaran pegunungan tengah menghasilkan curah hujan yang tinggi, yang dialirkan ke utara ke pedalaman daerah aliran sungai Mamberamo yang luas dan ke selatan menuju dataran aluvial segitiga yang melebar ketika mencapai arah timur hingga ke daerah  perbatasan Papua New Guinea (PNG).
-          Berdasarkan fakta luas wilayah, jenis hutan dan curah hujan yang tinggi saya menyimpulkan bahwa Papua memiliki kekayaan flora dan fauna yang berlimpah ruah, hal ini merupakan salah satu pendukung yang diberikan lingkungan fisik terhadap keberlangsungan pemerintahan di suatu daerah, dalam hal ini yang dimaksud adalah kemampuan memadahi yang dimiliki oleh alam Papua untuk mendukung pembangunan di Papua yang bersumber dari sektor sumber daya alam.

A2. Kondisi Cuaca

-          Iklim di Papua luar biasa karena terutama karena awannya (daerah ini mungkin merupakan salah satu tempat yang memiliki awan terbanyak di dunia)
-          Lokasi Papua yang membentang dari katulistiwa hingga 12 derajat Lintang Selatan menyebabkan iklim tropisnya didominasi secara musiman oleh angin Musim Baratlaut dan Angin Pasat Tenggara.
-          Angin Musim Baratlaut berlangsung dari November hingga Maret yang menyebabkan hujan dan cuaca yang berubah-ubah.
-          Angin Pasat Tenggara cenderung menghasilkan cuaca sejuk dan kering dan berlangsung mulai dari April hingga September.
-          Papua memiliki berbagai iklim mikro.
-          Curah hujan bervariasi dari rendah di bagian tenggara (kurang dari 2.000 mm/tahun) hingga sangat tinggi di sisi selatan cordillera (lebih dari 5.000 mm/tahun).
-          Curah hujan tertinggi di Papua tercatat di kota Tembagapura yaitu rata-rata 7.500 mm/tahun.
-          Ketinggian tempat dan suhu merupakan fenomena lingkungan yang menentukan di Papua, khususnya di daerah yang bergunung-gunung. Kondisi ini menentukan keberadaan biota yang berbeda di bidang-bidang lahan yang berdekatan, yang hanya dipisahkan oleh ketinggian.Karena itulah kekayaan jenis biota di Papua sangat tinggi.
-          Iklim yang dimiliki Papua menitikberatkan pada nilai curah hujan yang tinggi, hal ini diakibatkan karena ketinggian permukaan tanah yang bervariasi di Papua. Dampak positif dari curah hujan yang tinggi adalah meningkatnya daya dukung terhadap sektor pertanian di Papua, karena dengan curah hujan yang tinggi akan mendorong pertumbuhan dan perkembangan sektor pertanian, ini merupakan berkah yang luar biasa. Di lain sisi ketinggian permukaan tanah yang berbeda di Papua dapat menghambat pembangunan daerah dalam berbagai segi, karena banyak daerah yang menjadi sulit dijangkau bahkan terisolasi terhadap pembangunan, sehingga dibutuhkan peran aktif pemerintah dalam mendukung sarana dan prasarana perhubungan, baik darat, laut, maupun udara.  Tanah Papua memiliki potensi yang besar dari segi sumber daya alam, namun dibutuhkan peran aktif berbagai pihak untuk menghadapi kendala bentang alam.

b.      Sumber Kekayaan Alam

B1. Sumber Daya Alam Kehutanan

-          Hutan lebat merupakan tipe vegetasi alami di hampir seluruh Papua, kecuali di bagian tenggara (meskipun kebakaran yang menumbuhkan padang rumput di tempat tersebut mungkin akibat ulah manusia).
-          Hutan di Papua memiliki keanekaragaman jenis yang sangat tinggi; tegakannya didominasi oleh jenis pohon tertentu dan akibat faktor sejarah geologinya, keanekaragamannya sangat bervariasi menurut lokasi, bahkan dalam satu daerah tangkapan air. Misalnya, didalam hutan seluas 1 ha terdapat antara 70 dan 200 jenis pohon dengan diameter setinggi dada (dbh) lebih bear dari 10 cm. Karena itu, klasifikasi tipe-tipe hutan ditentukan berdasarkan ketinggian, curah hujan dan struktur vegetasinya.
-          Hutan-hutan Nuigini umumnya dapat disebut “hutan lembab tropis”.
Daerah hutam tropis di Papua sangat heterogen, hal ini disebabkan karena perbedaan ketinggian, struktur tanah, curah hujan, dsb.
-          Papua merupakan daerah hutan tropis kedua terbesar di pasifik setelah Kalimantan, namun Papua memiliki kekhususan tersendiri dibandingkan daerah lain karena hutan di Papua memiliki keanekaragaman jenis yang sngat tinggi. Keanekaragaman yang tinggi membutuhkan penanganan yang secara serius, karena itu hutan di Papua tidak bisa dieksploitasi seperti daerah lainnya di Indonesia. Dibutuhkan suatu penelitian serius terhadap sumber daya alam kehutanan di Papua secara lanjut yang akan menjadi suatu tinjauan wajib rancangan peraturan ataupun kebijakan pemerintah dalam penggunaan sumber daya hutan agar menjamin lestarinya flora maupun fauna yang hidup di dalamnya. Sumber daya hutan di Papua sudah dapat menyokong pemerintah namun dibutuhkan kehati-hatiaan pemerintah di dalam mengambill keputusan dalam hal penggunaan terhadap sumber daya alam agar tidak memberikan dampak buruk kepada alam maupun mahluk hidup yang mendiaminya.
B2. Sumber Daya Alam Kelautan

-          Di Papua terdapat 2.650 jenis ikan atau yang mewakili jenis vertebrata terbanyak. Kekayaan ini dipahami karena lokasi Papua di pusat “Segitiga Terumbu Karang” yang merupakan pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Kebanyakan jenis-jenisnya terdapat di daerah terumbu karang di bgian utara Teluk Ccenderawasih dan di sekitar perairan P.Biak dan Kep. Raja Ampat. Terumbu karang juga terdapat di sekitar Jayapura, pesisir Fak-Fak dan di antara Teluk Kaimana dan Teluk Etna. Survei ikthiologi (ilmu tentang ikan) dasar masih perlu dilakukan di Paoua terutama di lokasi-lokasi yang masih belum banyak diketahui.
-          Allan dan Adrim (2003) mencatat bahwa :
a.       1.362 ikan karang di perairan laut Papua.
b.      ±1.500 jenis (73% fauna penghuni terumbu karang di seluruh Indonesia terdapat di Papua)
-          Papua memiliki sumber daya alam kelautan yang sangat berlimpah, ini merupakan anugerah, namun sekaligus menjadi tanggung jawab bersama semua pihak untuk menjaga keanekaragaman hayati yang ada. Pemerintah sebagai regulator harus dapat mempertimbangkan dan mengkaji tata cara penggunaan sumber daya alam yang menguntungkan dua pihak, yakni alam itu sendiri maupun mahluk hidup di dalamnya.
       
B3. Sumber Daya Migas (SDM)

-          Minyak bumi merupakan produk pertambangan utama Papua, dari sumur-sumur minyak di sekitar Sorong, Salawati dan Teluk Bintuni.
-          Perusahaan produksi gas dan minyak bumi pertama di Papua adalah Pertamina (Operation EP Sorong) yang mencakup wilayah seluas 150 km2 di Klamono, Salawati Blok 01X dan Wiriagar sejak tahun 1964.  Pencarian sumber-sumber baru terus dilanjutkan
-          Pada tahun 1998 sumber gas alam baru ditemukan di Wiriagar Bintuni. Ladang gas alam baru ini disebut “Tangguh”. Eksplorasi proyek LNG Tangguh Bintuni (suatu proyek kerjasama grup minyak terbesar ke tiga di dunia, BP PLC dan BUMN Indonesia-Pertamina) menunjukkan ketersediaan gas alam cair di teluk tersebut baru habis dalam 15 sampai 20 tahun, dengan ketersediaan mencapai 3 juta ton per tahun. Pembangunan kilang oleh BP direncanakan selesai tahun 2006. Proyek ini akan menyumbang tambahan pendapatan yang besar bagi pemerintah pusat, yaitu sekita US$ 3 milyar per tahun.
-          Sektor minyak dan gas bumi telah menyumbang pendapatan yang besar bagi pemerintah pusat dan provinsi. PDB total dari sektor minyak bumi dan gas bumi terbilang stabil pada kisaran Rp 300 miliar sampai tahun 1997; dan meningkat drastis pada tahun 1998, atau mencapai Rp 824 miliar. Sumbangan PDB tersebut menurun cukup besar pada tahun 1999 menjadi Rp 577 miliar karena penurunan produksi gas dan minyak bumi menjadi 1.834.085 barel pada tahun 1999 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu rata-rata  7.792.832 barel (Dwiyana 2001).
-          Gas dan minyak bumi sudah menyumbangkan 3,37% sampai 5,54% dari PDB total selama beberapa tahun terakhir. Gas dan minyak bumi menyumbangkan 3,12% nilai ekspor total, yaitu hampir US$ 55 juta pada tahun 2002 (dari 1,35 juta barel minyak bumi dan 341.00 barel minyak residu.
-          Sektor MIGAS termasuk salah satu penyumbang pendapatan daerah di Papua, namun hal ini tidak sesignifikan sektor tambang, industri pengolahan dan pertanian. Dinamika eksplorasi terhadap sumber daya MIGAS di Papua menunjukkan bahwa belum semua potensi sumber daya MIGAS yang telah dieksplorasi. Kota Sorong merupakan contoh nyata dari kota yang berkembang dari sektor MIGAS. Pada akhirnya sumber daya MIGAS merupakan salah satu potensi yang perlu dipoles lagi. Menurut saya sumber daya MIGAS merupakan mutiara tersembunyi yang perlu ditangani secara serius baik oleh pemerintah setempat, para investor, maupun masyarakat.

c.       Kondisi Demografi (Kependudukan)

C1. Faktor-Faktor Penyebab Dinamika Kependudukan di Papua

-          Migrasi internal dan dari luar provinsi mungkin merupakan penyebab utama perubahan demografi, sosial dan budaya di Papua. Masyarakat Papua dari dulu memang sering berpindah-pindah dan gambaran demografis dari keadaan sebelum Papua dijajah memang terus berubah. Selama berabad-abad. Masyarakat yang tinggal di peisir pantai memandang ke arah barat dan memertahankan perdagangan serta hubungan pernikahan dengan orang Maluku; agama Islam tersebar sepanjang daerah pesisir (Swadling 1998, Kamma 1947/1948, Visser 1989, Huizinga 1998). Banyak masyarakat di sepanjang pesisir ini sekarang memainkan peranan penting di semua sektor pembangunan di Papua.

-          Selama pemerintahan Belanda, migrasi ke pusat-pusat perkotaan meningkat karena ketersediaan lapangan kerja dan daya tarik barang-barang manufaktur. Pemerintah Indonesia merangsang pembangunan ekonomi Irian Jaya melalui program transmigrasi, namun ternyata tidak banyak berhasil.

-          Secara keseluruhan, meskipun berbagai laporan menyatakan bahwa program transmigrasi merupakan usaha pemerintah untuk men”jawa”kan orang Papua, dampak demografis program ini jauh lebih ringan darpada yang diantisipasi oleh kebanyakan orang. Dari tahun 1976 sampai 1986, periode puncak transmigrasi, 94.000 orang menetap di lokasi transmigrasi dan kira-kira 13.000 di antaranya adalah transmigran lokal. Selama periode ini, hanya seperempat dari total perkiraan penambahan populasi Irian Jaya dari para transmigran dari luar daerah (Manning dan Rumbiak 1989). Namun seperti yang disebutkan di atas, migrasi dan urbanisasi spontan lebih banyak memengaruhi komposisi populasi daerah-daerah perkotaan dan distribusi pengembangan ekonomi serta sosial (lihat Visser 2001). Baru-baru ini, gelombang migrasi dari daerah-daerah lain di Indonesia tampaknya meningkat, yang mungkin bisa meningkatkan ketegangan-ketegangan dengan orang Papua.

C2. Kondisi Demografi Papua

a.       Perkembangan Jumlah Penduduk di Wilayah Papua menurut Provinsi

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Wilayah Papua adalah sebesar 3,59 juta orang, meningkat sebanyak 1,38  juta dari tahun 2000. Penduduk Wilayah Papua meliputi 1,5 persen dari penduduk Indonesia, dan merupakan konsentrasi penduduk terrendah setelah wilayah Maluku (1,1%). Dengan luas Wilayah Papua sekitar  416.060,3 km2, tingkat kepadatan penduduk Wilayah Papua diperkirakan sebesar 8,6 jiwa per km2, dan merupakan wilayah dengan kepadatan terrendah di Indonesia. Perbandingan kepadatan penduduk antarprovinsi, Provinsi Papua memiliki kepadatan lebih tinggi dibanding dengan Papua Barat.


Laju pertumbuhan penduduk Wilayah Papua dalam 10 tahun terakhir (2000-2010)  adalah sebesar 4,6 persen, lebih tinggi dibanding laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,5 persen. Tingginya laju pertumbuhan penduduk Wilayah Papua terutama dikontribusi oleh laju pertumbuhan di Provinsi Papua.

Dari sisi struktur penduduk menurut kelompok usia, hampir 64 persen penduduk Wilayah Papua tergolong dalam usia produktif (15-65 tahun). Kelompok usia terbesar berikutnya adalah penduduk usia 0-14 tahun sebesar 34,9 persen, dan sisanya sebanyak 1,1 persen adalah penduduk usia lanjut (di atas 65 tahun).  Dengan demikian, rasio ketergantungan (dependency ratio) di Wilayah Papua adalah sebesar 56 persen, yang berarti setiap 100 orang yang berusia kerja (dianggap produktif) mempunyai tanggungan sebanyak 56 orang yang belum produktif (0-14 tahun) dan dianggap tidak produktif lagi (>65 tahun).  Angka dependency ratio tersebut relatif tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 51,3 persen.

b.      Sex Ratio di Papua

Sex Ratio atau rasio jenis kelamin adalah perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan. Sex Ratio penduduk Wilayah Papua adalah sebesar 113,22 yang artinya jumlah penduduk laki-laki relatif lebih tinggi dibanding penduduk perempuan. Sex Ratio di Provinsi Papua lebih tinggi dibanding sex ratio di Papua Barat.


c.       Penduduk bekerja menurut tingkat pendidikan terakhir yang ditamatkan di Wilayah Papua

Penduduk bekerja menurut tingkat pendidikan terakhir yang ditamatkan di Wilayah Papua, sebagian besar (61,67%) berpendidikan maksimal Sekolah Dasar (<SD), berikutnya berpendidikan SMTA Umum  (13,20%) dan SMTP (12,38%). Komposisi penduduk bekerja berpendidikan rendah (maksimal tamat SD) menurut provinsi, sebesar 65,28 persen berada di Provinsi Papua dan sebesar 46,13 persen di Provinsi Papua Barat. Penduduk bekerja dengan tingkat pendidikan di atas SMTA sebagian besar berada di Provinsi Papua Barat.

C3. Kesimpulan Demografi

Secara keseluruhan jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan penduduk berjenis kelamin perempuan. Perkembangan dinamika penduduk di Papua tidak dipengaruhi secara signifikan oleh program pemerintah, namun hal tersebut secara murni terjadi karena perkembangan Papua. Pola imigrasi ke Papua pada umumnya terjadi di dalam lingkup nasional atau antar provinsi di Indonesia. Penduduk merupakan faktor penting pendukung lingkungan internal politik di Papua. Politik pada hakekatnya akan mati tanpa hadirnya para aktor yang melaksanakan politik itu. Penduduk usia produktif di Papua memiliki persentase lebih besar dibandingkan persentase penduduk usia produktif secara nasional. Tingginya jumlah penduduk usia produktif merupakan suatu bentuk dukungan berarti terhadap pembangunan daerah, namun hal tersebut harus diimbangi dengan kualitas pendidikan angkatan kerja.

 Angkatan kerja berkualitas yang terserap oleh lapangan kerja di Papua masih kalah jumlah apabila dibandingkan dengan Papua Barat, hal ini dapat dilihat pada tabel komposisi penduduk usia 15 tahun ke atas yang Bekerja Menurut Provinsi Papua. Menurut saya ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi hal tersebut, diantaranya daya serap lapangan kerja, kebudayaan daerah setempat, peraturan pemerintah, dan sebagainya. Namun dari sekian alasan yang saya kemukakan saya menilai bahwa kualitas tenaga kerja di Papua Barat lebih baik dibandingkan Papua sehingga dapat diprediksi bahwa pembangunan yang daerah di Papua Barat akan lebih baik kedepannya apabila dibandingkan dengan Papua.


2.     Lingkungan Sosial

Meskipun provinsi Papua, kaya dengan SDA, rakyatnya termasuk yang termiskin di Indonesia. Kesempatan pendidikan terbatas dan mereka yang telah mendapatkan pendidikan menghadapi tingginya tingkat pengangguran di lingkungan yang lebih mengutamakan para pekerja yang berasal dari luar Papua. Para orang tua Papua menargetkan agar bisa memeroleh pekerjaan di pemerintah bila mereka ingin mendapat masa depat yang sejahtera bagi anak-anak mereka karena tingginya persaingan dalam sektor komersial. Sektor pemerintah juga tidak kebal terhadap sikap diskriminatif terhadap orang Papua, mungkin berbaur dengan ketakutan terhadap orang-orang yang cenderung menumbuhkan bentuk nasionalisme separatis yang akan memeroleh terlalu banyak pengaruh di sektor formal.

Segala upaya untuk melibatkan lebih banyak orang Papua dalam berbagai proses pengambilan keputusan dan memekerjakan lebih banyak orang Papua di sektor formal, akan menimbulkan suatu lingkaran setan. Tingkat pendidikan yang umumnya rendah, dengan kurikulum yang difokuskan untuk membuat orang Papua yang bersifat pemberontak dan sulit diatur menjadi warga negara Indonesia yang baik, memberikan peluang kepada orang Papua dengan strategi-strategi alternatif yang terbatas untuk memikirkan bentuk-bentuk nasionalisme yang lain dan untuk berhubungan dengan badan-badan penasihat di dalam maupun di luar Indonesia. Namun generasi-generasi Papua sekarang telah memanfaatkan berbagai kesempatan pendidikan, khususnya mereka yang berasal dari daerah-daerah yang tidak terlalu gusar atas “pengambilalihan” kekuasaan oleh pemerintah Indonesia seperti di daerah Kepala Burung.

Keahlian dan pengetahuan para birokrat Papua sekarang ini telah memudahkan beberapa orang berpengaruh untuk memantapkan hubungan dengan Jakarta demi kepentingan orang-orang di Papua. Namun kemampuan ini kebanyakan digunakan demi kepentingan sendiri di antara kaum elite tersebut. Sebaliknya, daerah-daerah pegunungan dan pesisir selatan yang masih terbelakang lebih banyak terwakili, meskipun jumlah pembuat kebijakannya tidak berimbang daripada mereka yang berasal dari Biak-Numfor dan Yapen di Teluk Cenderawasih, Sorong dan Sentani, serta beberapa perwakilan orang Jawa dan orang Maluku. Masyarakat pegunungan dan daerah pesisir selatan sering dilanda rasa iri dengan kekuasaan yang dinikmati oleh orang-orang dari Teluk Cenderawasih, Kepala Burung dan Sentani.

Banyak perbedaan internal yang saat ini terjadi di Papua dan konflik berkepanjangan dengan Jakarta berkaitan dengan pergantian kekuasaan di pusat pemerintahan dan meningkatnya perhatian terhadap akses ke SDA sebagai akibat dari desentralisasi. Perbedaan semakin melebar antara perspektif yang mengacu pada Papua dan perspektif nasionalis yang mendukung struktur pemerintah yang mendukung struktur pemerintah yang tampak terorganisir, tetapi sering menyelubungi nepotisme, kepentingan-kepentingan bisnis dan ekonomi internasional. Pemerintah tingkat provinsi, organisasi-organisasi kemasyarakatan dan masyarakat-masyarakat setempat masih harus menempuh perjalanan yang panjang untuk mencapai komitmen bersama guna meningkatkan akses ke berbagai pelayana masyarakat. Khusus untuk masyarakat pedesaan, upaya ini sangat diperlukan untuk memrakarsai perubahan-perubahan sosial, ekonomi dan politik yang akan melayani orang-orang miskin dan untuk memromosikan pembagian keuntungan dari SDA yang lebih berimbang melalui Otonomi Khusus.


3.     Lingkungan Ekonomi Domestik

3a. Stuktur Perekonomian Wilayah Papua

Struktur Ekonomi Perekonomian Wilayah Papua ditopang oleh tiga lapangan usaha utama, yakni sektor pertambangan dan penggalian, sektor pertanian, dan industri pengolahan. Kontribusi ketiga sektor tersebut hampir 70 persen terhadap pembentukan PDRB Wilayah Papua. Sektor pertambangan dan penggalian pertanian, industri pengolahan, dan pertambangan.  Namun demikian penyebaran sumber daya alam pertambangan tidak merata antardaerah.  Di luar ketiga sektor utama tersebut, sektor perdagangan, hotel, dan restoran juga memiliki peran yang besar.  Struktur perekonomian wilayah tersebut relatif tidak mengalami pergeseran yang berarti selama periode 2005-2011.


Struktur perekonomian Provinsi Papua masih ditopang oleh tiga sektor utama, yaitu pertambangan dan penggalian, sektor pertanian, dan sektor jasa.  Selain ketiga sektor tersebut, sektor kontruksi dan angkutan juga memiliki peran cukup besar terhadap pembentukan PDRB provinsi.  Sementara sektor yang menjadi penopang perekonomian Provinsi Papua Barat adalah sektor industri pengolahan dan sektor pertanian.  Selain kedua sektor tersebut, sektor lain yang memberikan kontribusi cukup besar adalah sektor jasa dan  dan pertambangan (Tabel 7-24).


 

3b. PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Menurut Lapangan Usaha

Perekonomian Wilayah Papua pada tahun 2012 mengalami percepatan pertumbuhan dibandingkan tahun 2011.  Pada tahun 2012, dampak pelemahan ekonomi dunia nampak dirasakan di beberapa provinsi  di Indonesia, khususnya provinsi-provinsi penghasil komoditas ekspor yang permintaan dan harganya turun di pasar dunia.  Namun demikian secara umum perekonomian provinsi-provinsi di Wilayah Papua masih tumbuh positif, bahkan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya.  


Secara sektoral, seluruh sektor tumbuh positif kecuali sektor pertambangan dan penggalian memiliki laju negative.  Sektor dengan laju pertumbuhan tertinggi dan sekaligus penopang pertumbuhan Wilayah Papua adalah sektor industri pengolahan, sektor jasa dan sektor kontruksi. Selain ketiga sektor tersebut, sektor pengangkutan, perdaggangan, dan sektor keuangan juga memiliki laju pertumbuhan cukup tinggi dan lebih tinggi dibandingkan tahun 2010.

3c. Kesimpulan
                                Perekonomian di Papua berkembang dengan baik, namun dinamika perkembangan sumbangan pendapatan daerah kedepannya, khususnya pada sektor pertambangan dan penggalian kurang menjanjikan karena walaupun besar namun sumbangannya tidak bertambah bahkan dalam beberapa tahun mengalami penurunan. Sektor pertanian dan industri pengolahan mempunyai perkembangan yang positif dalam beberapa tahun, hal ini menunjukkan bahwa sektor ini merupakan sektor unggul yang dapat dikembangkan secara lebih lagi oleh pemerintah maupun masyarakat.

Menurut saya Sektor konstruksi,  sektor listrik ,air dan gas, dan industri jasa merupakan tiga sektor usaha yang perlu mendapat perhatian lebih lagi dalam hal pengembangan karena ketiga sektor ini merupakan sektor yang dapat maju di kemudian hari.

Alasan saya menilai ketiga sektor usaha tersebut sebagai sektor yang perlu diperhatikan secara lebih lagi yakni :
1.       Ketiga sektor ini merupakan sektor yang masih belum terlalu diperhatikan oleh pemerintah maupun pihak swasta.
2.       Industri pengeboran minyak di Papua belum menjadi primadona utama seperti tambang.
3.       Industri jasa di Papua belum terlalu berkembang, hal ini juga merupakan salah satu penghambat perkembangan Papua.
4.       Listrik, dan Air Bersih masih menjadi kendala utama di Papua karena masih banyak daerah di Papua yang belum bisa menyediakan listrik dan air bersih yang layak.
5.       Papua berada pada tahapan pembangunan sehingga diperlukan perhatian lebih terutama pada sektor usaha konstruksi, dengan pengembangan sektor ini secara lebih baik dapat meningkatkan perkembangan Papua ke depannya.

Akhirnya dibutuhkan kerjasama semua pihak, baik itu pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha di dalam mendukung perbangunan ekonomi di Papua.

                 











KELEBIHAN DAN KEKURANGAN LINGKUNGAN INTERNAL SISTEM POLITIK DI PAPUA
(SIMPULAN)


A.      Kelebihan

Lingkungan internal sistem politik di Papua memiliki beberapa kelebihan yakni :

1.       Wilayah yang luas.
2.       Curah hujan yang melimpah sehingga dapat menjamin kesuburan tanah di Papua.
3.       Iklim dan bentang alam yang mendukung keanekaragaman hayati.
4.       Jumlah penduduk usia produktif yang lebih banyak dibandingkan usia non produktif.
5.       Sumber daya alam yang berlimpah, baik itu dalam bentuk mahluk hidup maupun produk yang dihasilkan oleh bumi.
6.       Pemberlakuan sistem Otonomi Khusus di Papua yang memberikan peluang pembentukan sistem pemerintahan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.
7.       Pertanian yang berkembang dengan maksimal sehingga dapat menjamin ketahanan pangan Papua.
8.       Masih banyaknya peluang usaha di Papua, ini ditunjukkan dengan perkembangan yang belum terlalu signifikan terhadap sektor-sektor usaha yang berpotensi.

B.       Kekurangan
Kekurangan yang dimiliki lingkungan internal sistem politik di Papua yakni :

1.       Keadaan bentang alam yang menyulitkan terjadinya pembangunan di Papua, sehingga dibutuhkan perhatian lebih dalam hal penyediaan sarana dan prasarana transportasi yang efisien dalam berbagai hal.
2.       Belum adanya kajian lanjut tentang sumber daya alam Papua. Kalaupun sudah ada hal tersebut tidak disertai dengan adanya fungsi kontrol serta upaya tegas dalam hal pelestarian sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui di Papua.
3.       Rendahnya kualitas sumber daya angkatan kerja yang sudah terserap lapangan kerja. Hal ini secara tidak langsung akan berdampak negatif terhadap kinerja birokrasi pemerintahan maupun badan swasta di Papua.
4.       Kecenderungan perekonomian yang hanya bergantung pada sektor pertambangan padahal pada kenyataan manfaat yang diberikan tidaklah merata pada semua daerah di Papua, hal ini menjadi sekat bagi pandangan akan pentingnya peningkatan sektor lain yang berpotensi sebagai penyumbang pendapatan daerah lainnya di Papua.
5.       Belum adanya upaya maksimal dalam hal pelestarian terhadap flora dan fauna di Papua. Hal ini seharusnya ditunjukkan dengan pemberian aturan tegas dan jelas terutama di dalam era pemberlakuan otonomi khusus di Papua.
6.       Masih terjadinya perpecahan internal di dalam masyarakat Papua. Hal ini ditunjukkan dengan suburnya paham primordialisme yang salah yaitu pembagian antara masyarakat pantai dan gunung.
7.       Belum adanya pemberian ruang gerak yang cukup atau diskriminasi bagi orang Papua untuk terlibat secara menyeluruh di berbagai segi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kalaupun ada hal tersebut sarat akan KKN dan kontrak politik sepihak.
8.       Belum adanya kesatuan di antara masyarakat Papua, dan kerancuan diantara kedudukan hukum adat dengan hukum nasional.















SUMBER

Rahman. A.H.I.,  Sistem Politik Indonesia. Graha Ilmu, Yogyakarta, 2007
Sistem Politik Indonesia, A. Rahman H.I., Graha Ilmu, Yogyakarta, 2007
Ekologi Papua, Editor Sri Nurani, Andrew J. Marshall, dan Bruce Beehler, Obor Indonesia, Jakarta, 2007

Pembangunan Daerah Dalam Angka 2012, Direktorat Pengembangan Wilayah, Jakarta, 2012

Komentar

Posting Komentar